Marettama Dinda
Marettama Dinda

Hello, I'm Marettama Dinda. Majoring English Literature at one of public university at Semarang. I love to do digital drawing, reading, learning, and sharing my experience. I also learn many things to build up my portofolio.

3 Juli 2020

Apa Itu Working Capital? Pebisnis Wajib Tahu

3 Juli 2020

Pebisnis Wajib Tahu Apa Itu Working Capital, Terlengkap! – Anda seorang pebisnis atau bekerja di bidang keuangan perusahaan? Pernah mendengar istilah mengenai working capital? Jika belum, tentu amat penting bagi anda untuk mengetahui tentang istilah dalam dunia bisnis ini.

Working Capital dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Modal Kerja. Working Capital merupakan salah satu istilah dalam dunia bisnis. Apabila anda bekerja di bagian keuangan perusahaan ataupun membuka usaha sendiri, anda wajib tahu mengenai istilah ini. Working capital yang dimiliki setiap perusahaan tentu berbeda-beda. Hal ini bergantung pada aset apa saja yang dihitung oleh perusahaan tersebut. Jika anda ingin mengetaui lebih lanjut, berikut definisinya…

Apa Itu Working Capital?

Menurut The Free Dictionary.com Working capital diartikan sebagai perbedaan antara current assets dan current liabilities. Dimana ada beberapa variasi dalam bagaimana working capital ini dikalkulasikan. Variasi tersebut termasuk pengelolaan hutang jangka pendek.

Dengan kata lain, Working Capital dalam bahasa sehari-hari dapat didefinisikan sebagai uang atau dana yang tersedia untuk biaya operasional sehari-hari perusahaan.

Apa Saja yang Termasuk Aset Perusahaan?

Untuk mengitung Working Capital kita harus mengetahui apa saja yang termasuk kedalamnya. Beberapa bentuk Current Assets yang termasuk kedalamnya adalah uang tunai, uang yang tersimpan dalam bank, aset lain yang dapat segera diuangkan ketika genting, inventaris perusahaan serta beberapa sumber potensi pendapatan (contohnya: tagihan-tagihan yang belum dibayar oleh konsumen).

Selain itu ada juga Current Liabilities atau Aset Liabilitas. Aset Liabilitas ini merupakan jumlah hutang yang dimiliki dan harus dibayar (termasuk gaji karyawan, tagihan pajak, dan cicilan hutang jangka panjang yang harus dilunasi) oleh perusahaan dalam kurun waktu satu tahun (pada tahun tersebut).

Kedua aset tersebut dihitung dalam jangka waktu 12 bulan (satu tahun).

Baca Juga: 11 Rekomendasi Bisnis Online 2020

Cara Menghitung Working Capital

Nah, cara mengetahui working capital suatu perusahaan adalah dengan mengurangkan kedua aspek tersebut.

Jadi Rumusnya adalah…

Working Capital = Current Assets – Current Liabilities

Contoh Kasus Working Capital

Berikut ini adalah contoh sederhana dari konsep working capital dalam dunia bisnis.

Jika anda memiliki sebuah perusahaan dengan jumlah aset sebesar Rp. 300 juta dan jumlah hutan sebesar Rp. 250 juta. Maka working capital yang anda miliki adalah sebesar Rp. 50 juta. Angka ini menunjukkan bahwa working capital anda dalam kondisi positif. Dapat juga didefinisikan bahwa perusahaan mampu membayar hutang-hutangnya dalam kurun waktu satu tahun kedepan.

Namun, jika seleisih antara working capital dan liabilitas perusahaan sangat kecil, maka perusahaan tersebut dapat dipastikan tidak mampu membayar hutangnya dalam kurun waktu satu tahun.

Jika anda ingin menganalisis working capital lebih mendalam maka anda wajib mempelajari dan mengetahui lebih jauh tentang kondisi detail finansial sebuah perusahaan. Selain itu, anda juga dapat menerapkan analisis keuangan lainnya seperti current ratio, quick ratio, days payable, receivables ratio, dan inventory turn-over ratio.

Kenapa Working Capital Penting dalam suatu Perusahaan?

Jika anda menjalankan suatu bisnis atau bekerja dalam bidang keuangan suatu perusahaan, maka sangat penting bagi anda untuk mengetahui kondisi finansial perusahaan. Dalam lalu lintas dana operasional perusahaan, keberadaan working capital menjadi penting karena dapat dijadikan acuan untuk mengetahui kesehatan keuangan perusahaan.

Lalu bagaimana kondisi keuangan dapat dikatakan “sehat”? Kondisi ini dapat dilihat melalui selisih antara perbedaan Current Assets dan Current Liabilities. Semakin besar selisihnya, maka semakin sehat pula kondisi keuangan perusahaan tersebut.

Namun bagaimana jika hasilnya negatif? Itu berarti jumlah hutang sudah melampaui aset yang dimiliki. Working Capital bernilai negatif menunjukkan bahwa perusahaan telah berada di ambang kebangkrutan.

Apakah Working Capital Tinggi Selalu Berarti Baik?

Perusahaan dapat dikatakan dalam kondisi ‘aman’ apabila memiliki tingkat working ideal yang tinggi. Hal ini dapat menjadi indikator bahwa perusahaan dapat membayar semua hutang-hutangnya. Namun, tingginya working capital tidak selalu berdampak baik pada perusahaan.

Karena bisa jadi aset yang dimiliki perusahaan tidak bergerak lebih banyak dibandingkan dengan saldo rekening atau uang tunai. Banyak hal yang bisa mengakibatkan hal ini terjadi. Penghitungan tidak selalu bisa sejalan dengan realita. Terkadang bebrapa konsumen membayar hutang terlalu cepat atau bahkan terlambat. Selain itu, bisa berarti juga bahwa perusahaan terlalu banyak menaruh dana pada inventaris tanpa menyediakan uang tunai untuk biaya sehari-hari.

Apakah Working Capital Bernilai Negatif Selalu Berarti Buruk?

Jawabannya, Tidak. Meskipun Working Capital menandakan bahwa Perusahaan dalam ambang kebangkrutan, namun dengan strategi yang tepat kondisi ini dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaan.

Dengan strategi yang tepat, anda dapat membuat dan menjual produk anda sendiri langsung kepada konsumen dalam waktu singkat. Sehingga hasil dari penjualan ini dapat anda gunakan untuk membayar hutang perusahaan yang telah jatuh tempo. Dengan strategi ini, tentu anda dapat melakukan penjualan dan membayar hutang tanpa harus mengurangi aset yang telah dimiliki.

Penutup

Sekian penjelasan mengenai Working Capital, Semoga dapat menambah pengetahuan anda di dunia bisnis dan dapat bermanfaat.